Minggu, 26 Februari 2012

makalah pendekatan keterampilan proses


Makalah ini disusun oleh Amin Mustajab dkk
universitas tanjungpura Pontianak jadi silahkan di kopas





A.   PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES

Keterampilan proses adalah keterampilan memproses informasi yang diwarnai dengan prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif yang secara umum hampir sama dengan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) seperti termuat dalam Kurikulum 2004 dan 2006. Di Sekolah Dasar, keterampilan ini seharusnya muncul dalam mata pelajaran kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk juga matematika. Hal ini tercermin dari tujuan pembelajaran mata pelajaran kelompok ini seperti termuat di dalam kurikulum Sekolah Dasar 2006 (Depdiknas, 2006) yaitu untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.

1.      Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses
§  Pengertian dan Prinsip-Prinsip Pendekatan Keterampilan Proses

a.      Pengertian

Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pengelolaan hasil belajar (Comy, 1992). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Dalam pembelajaran Fisika pun, pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan. Struktur Fisika yang berpola deduktif kadang-kadang memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk sampai pada suatu kesimpulan, kadang-kadang dapat digunakan pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, penerkaan, observasi, induksi bahkan mungkin dengan mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, karena banyak objek matematika yang dikembangkan secara intuitif atau induktif.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa keunggulan pendekatan keterampilan proses di dalam proses pembelajaran, antara lain adalah :
1.      siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
2.      siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari,
3.      melatih siswa untuk berpikir lebih kritis,
4.      melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran,
5.      mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru,
6.      memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode ilmiah.
Pendekatan keterampilan proses ini berbeda dengan pendekatan tradisional, karena di dalam pembelajaran dengan pendekatan tradisional, guru hanya memberikan materi pelajaran yang berfokus pada pemberian konsep-konsep, informasi, dan fakta yang sebanyak-banyaknya kepada siswa. Akibatnya, hasil belajar yang diperoleh siswa pun hanya terbatas pada aspek pengetahuan saja, sedangkan aplikasinya belum tentu dapat dilakukan. Padahal di dalam pembelajaran Fisika, siswa juga dituntut untuk mengalihgunakan informasi yang diperolehnya pada bidang lain dan bahkan di dalam kehidupan sehari-hari.

b.      Prinsip-prinsip Pendekatan Keterampilan Proses
Dalam membahas pendekatan keterampilan proses, prinsip-prinsip tentang pendekatan tersebut menjadi hal mutlak yang harus Anda pahami. Satu hal yang harus kita sepakati bersama, bahwa dalam pembelajaran yang dilakukan orientasinya tidak hanya produk belajar, yakni hasil belajar yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran saja, melainkan lebih dari itu. Pembelajaran yang dilakukan juga diarahkan pada bagaimana memperoleh hasil belajar atau bagaimana proses mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan terpenuhi.
Untuk mencapai tujuan di atas, terdapat sejumlah prinsip yang harus Anda pahami (Conny, 1992), yang meliputi:
(1). kemampuan mengamati,
(2). kemampuan menghitung,
(3). kemampuan mengukur,
(4). kemampuan mengklasifikasikan,
(5). kemampuan menemukan hubungan,
(6). kemampuan membuat prediksi (ramalan),
(7). kemampuan melaksanakan penelitian,
(8). kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data,
(9). kemampuan menginterpretasikan data, dan
(10). kemampuan mengkomunikasikan hasil.


(1). Kemampuan Mengamati
Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa digunakan untuk memperhatikan hal yang diamati, kemudian mencatat apa yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya. Contoh: siswa mengamati berat benda.

(2). Kemampuan Menghitung
Kemampuan menghitung dalam pengertian yang luas, merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa dalam semua aktivitas kehidupan semua manusia memerlukan kemampuan ini. Contoh: siswa menghitung berat benda di atas permukaan bumi bila massanya di ketahui.

              (3). Kemampuan Mengukur
Dalam pengertian yang luas, kemampuan mengukur sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dasar dari kegiatan ini adalah perbandingan. Contoh: siswa mengukur panjang garis tengah lingkaran.


(4). Kemampuan Mengklasifikasi
Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan. Pengelompokan ini didasarkan pada karakteristik atau ciri-ciri yang sama dalam tujuan tertentu, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Contoh: siswa mengelompokkan benda-benda yang berbentuk lingkaran dengan yang bukan.

(5). Kemampuan Menemukan Hubungan
Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk menentukan hubungan antara sikap dan tindakan yang sesuai. Contoh: siswa menentukan waktu yang dibutuhkan oleh siswa lain yang dapat menempuh lintasan lapangan berbentuk lingkaran dengan garis tengah dan waktu tertentu.

(6). Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan)
Ramalan yang dimaksud di sini bukanlah sembarang perkiraan, melainkan perkiraan yang mempunyai dasar atau penalaran. Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang didasari penalaran, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah, seorang ilmuwan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji melalui eksperimen. Contoh: Siswa meramalkan mana yang lebih panjang jarak tempuhnya jika dua buah benda yang berlainan jari-jari digelindingkan. Siswa kemudian membuat hipotesis tentang rumus keliling lingkaran.

  (7). Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan)
Penelitian merupakan kegiatan para ilmuwan di dalam kegiatan ilmiah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis. Kegiatan percobaan umumnya dilaksanakan dalam mata pelajaran eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi. Sedangkan untuk mata pelajaran non eksakta, kegiatan yang biasa dilakukan adalah penelitian sederhana yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan. Contoh: siswa melakukan percobaan untuk menemukan rumus keliling lingkaran.

(8). Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data
Kemampuan ini merupakan bagian dari kemampuan melaksanakan penelitian. Dalam kemampuan ini, siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif. Contoh: siswa mengumpulkan data yang diperoleh dari percobaan, menganalisis data tersebut, dan membuat kesimpulan berupa rumus keliling lingkaran

(9). Kemampuan Menginterpretasikan Data
Dalam kemampuan ini, siswa perlu menginterpretasikan hasil yang dperoleh dan disajikan dalam bentuk tabel, diagram, grafik, atau histogram. Contoh: siswa menginterpretasikan hubungan antara garis tengah dan keliling lingkaran dengan menggunakan grafik yang diperoleh dari percobaan.

(10). Kemampuan Mengkomunikasikan Hasil
 Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang juga harus dikuasai siswa. Dalam kemampuan ini, siswa perlu dilatih untuk mengkomunikasikan hasil penemuannya kepada orang lain dalam bentuk laporan penelitian, paper, atau karangan. Contoh: siswa membuat laporan tentang hasil percobaan menentukan rumus keliling lingkaran


           
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa pada prinsipnya pendekatan keterampilan proses sangat diwarnai dengan prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkontsruksi sendiri pemahaman mereka tentang ide dan konsep matematika. melalui serangkaian kegiatan pemecahan masalah. Untuk itu, berikut ini akan disajikan secara singkat konsep dan prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL).

1.      Konsep dan Prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan istilah yang bermakna sama dengan Student Active Learning (SAL). Dalam dunia pendidikan dan pengajaran termasuk matematika, CBSA bukanlah hal yang baru. Bahkan beberapa teori menunjukkan bahwa CBSA merupakan tuntutan logis dari hakikat pembelajaran yang sebenarnya. Hampir tidak mungkin terjadi proses pembelajaran yang tidak memerlukan keterlibatan siswa di dalamnya.
Sebagai suatu konsep, CBSA adalah suatu proses pembelajaran yang subjek didiknya terlibat secara fisik, mental-intelektual, maupun sosial dalam memahami ide-ide dan konsep-konsep pembelajaran (Ahmadi, 1991). Dengan kata lain, arah pembelajaran CBSA mengacu pada siswa atau “student oriented” yang bermakna pembentukan sejumlah keterampilan untuk membangun pengetahuan sendiri baik melalui proses asimilasi maupun akomodasi. Dalam proses pembelajaran yang seperti ini, siswa dipandang sebagai objek dan sekaligus sebagai subjek.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CBSA adalah salah satu strategi pembelajaran yang menuntut aktivitas atau partisipasi peserta didik seoptimal mungkin sehingga mereka mampu mengubah tingkah lakunya dalam proses internalisasi secara lebih efektif dan efisien.
Ada beberapa prinsip belajar yang dapat digunakan dalam menunjang tumbuhnya CBSA di dalam pembelajaran (Ahmadi, 1991), yaitu:
(1). motivasi belajar siswa,
(2). pengetahuan prasyarat,
(3). tujuan yang akan dicapai,
(4). hubungan sosial,
(5). belajar sambil bekerja,
(6). perbedaan individu,
(7). menemukan, dan
(8). pemecahan masalah.





(1) Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar merupakan prinsip utama dalam CBSA. Tanpa adanya motivasi, hasil belajar yang dicapai siswa tidak akan optimal. Oleh karena itu, peranan guru dalam mengembangkan motivasi belajar ini sangat diperlukan sekali. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam CBSA, antara lain melalui penggunaan metode atau cara belajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, menggunakan media dan alat bantu yang bervariasi, memberikan pertanyaan-pertanyaan pengiring atau pelacak, dan lain-lain.

(2) Pengetahuan Prasyarat
Matematika bersifat hirarkis. Untuk menguasai suatu materi atau topik matematika, peserta didik harus menguasai terlebih dahulu materi-materi sebelumnya yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan materi yang akan dipelajari tersebut. Oleh karena itu, tugas guru adalah menyelidiki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang telah dimiliki siswa untuk mempelajari suatu materi. Dengan cara demikian, siswa akan lebih siap untuk memahami materi yang akan dipelajarinya.

(3) Tujuan yang Akan Dicapai
Pembelajaran yang terencana dengan baik akan memberikan hasil yang baik pula. Perencanaan pembelajaran ini biasanya diwujudkan dalam perumusan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan inilah yang menjadi pedoman bagi guru dalam menentukan keluasan dan kedalaman materi.

(4) Hubungan Sosial
Dalam belajar siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan teman-temannya agar konsep-konsep yang sulit dipahami oleh siswa secara mandiri akan menjadi lebih mudah jika dipelajari secara berkelompok. Latihan bekerja sama ini juga bermanfaat dalam proses pembentukan kepribadian siswa terutama sikap sosialnya.

(5) Belajar Sambil Bekerja
Pada hakikatnya anak belajar sambil bekerja. Semakin banyak aktivitas fisik siswa, akan semakin berkembang pula kemampuan berpikir siswa. Apa yang diperoleh siswa dalam pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas fisiknya, akan lebih lama mengendap dalam memori siswa. Siswa akan bergembira dalam belajar apabila diberi kesempatan yang sebanyak-banyaknya dalam bekerja. Oleh karena itu, prinsip belajar sambil bekerja ini merupakan prinsip yang paling banyak mewarnai CBSA.
           
(6) Perbedaan Individu
           Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri, misalnya dalam kemampuan, kebiasaan, minat, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Dalam pembelajaran, guru sebaiknya dapat memperhatikan perbedaan individu pada anak didiknya. Guru tidak boleh memperlakukan semua anak dengan cara yang sama, walaupun tidak semua perbedaan anak dapat diakomodasi.





(7) Menemukan
           Menemukan merupakan prinsip yang harus banyak mewarnai CBSA. Dalam CBSA, siswa harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mencari dan menemukan sendiri informasi-informasi yang ada di dalam pembelajaran. Dengan cara demikian, siswa akan merasa lebih bersemangat dalam belajar dan belajar menjadi pekerjaan yang tidak membosankan bagi siswa

(8) Memecahkan Masalah
           Pembelajaran akan lebih terarah apabila dimulai dengan permasalahan yang harus dipecahkan siswa. Situasi yang menghendaki siswa harus memecahkan masalah ini akan mendorong siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara maksimal.


2.      Konsep Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Definisi pembelajaran kontekstual secara umum masih belum disepakati oleh para ahli, tetapi tentang dasar dan unsur-unsur kuncinya lebih banyak yang mereka sepakati. Pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu peserta didik menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka peroleh di dunia nyata dengan yang mereka pelajari di sekolah untuk kemudian menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Dengan demikian, inti pembelajaran kontekstual adalah melibatkan situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran.
Pembelajaran kontekstual sebenarnya bukalah ide baru. Pembelajaran tersebut berakar dari filosofi yang dikembangkan oleh John Dewey yang mengemukakan bahwa peserta didik akan belajar dengan baik, ketika apa yang dipelajarinya dikaitkan dengan apa yang mereka ketahui dan ketika mereka secara aktif belajar sendiri.
Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu:
a. Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.
b. Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer).
c. Kerjasama dan diskursus: peserta didik belajar dari orang lain melalui kerjasama, diskursus (penjelasan-penjelasan) kerja tim dan mandiri (self reflection).
d. Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi.
e. Pengetahuan prasyarat: pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.
f. Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan.
g. Mengarahkan sendiri (self-direction): peserta didik ditantang dan dimungkinkan untuk membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-laternatif, dan diarahkan sendiri. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya (Siswono, 2004).
Dalam pembelajaran kontekstual terdapat empat elemen kunci, yaitu:
a. belajar bermakna,
b. penerapan pengetahuan,
c. berpikir tingkat tinggi,
d. kurikulum yang berkait standar,
e. respon terhadap budaya dan
f. penilaian autentik.

a. Belajar Bermakna
            Pemahaman, relevansi pribadi, dan penilaian seorang peserta didik yang melekat pada isi yang dipelajari. Tanpa menekankan pada penemuan makna bagi peserta didik, banyak peserta didik yang akan menjauhi belajar, karena mereka melihat bahwa itu tidak sesuai dengan kehidupannya.

b. Aplikasi Pengetahuan
Penerapan pengetahuan merupakan strategi yang sangat umum digunakan dalam CTL dalam rangka untuk membantu peserta didik menemukan makna dalam belajarnya. Peserta didik jarang sekali yang tertarik pada pembelajaran yang abstrak dan tidak berhubungan dengan dunia nyata.

c. Berpikir Tingkat Tinggi
Penggunaan berpikir tingkat tinggi akan membantu mengembangkan pikiran dan keterampilan peserta didik serta memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang dipelajarinya. Tanpa ini, peserta didik mungkin mudah lupa apa yang sudah dipelajarinya.

d. Kurikulum yang Berkaitan dengan Standar
Kurikulum yang didasarkan pada standar-standar akan memberikan landasan kuat terhadap materi-materi yang dipelajari dalam kelas-kelas khusus dan pada berbagai tingkat pendidikan. Selain itu juga, akan memberikan kerangka kerja yang lebih mantap dan jelas dalam mengajarkan materi lintas kelas, bila dibandingkan dengan pendapat pribadi atau pengalaman-pengalaman guru saja.
Menerapkan CTL dalam suatu pembelajaran pada prisipnya sama saja dengan menciptakan suatu pembelajaran yang menantang daya cipta siswa untuk menemukan informasi baru dalam pembelajaran. Di dalam Depdiknas (2003) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu:
(1). kontsruktivis (constructivism),
(2). inkuiri (inquiry),
(3). bertanya (questioning),
(4). masyarakat belajar (learning community),
(5). pemodelan (modeling),
(6). refleksi (reflection) dan
(7). penilaian yang sebenarnya (authentic assestment).



(1). Kontsruktivisme (Constructivism)
Siswa membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Pengalaman awal selalu merupakan dasar/tumpuan yang digabung dengan pengalaman baru untuk mendapatkan pengalaman baru. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman yang bermakna.

(2) Penemuan (Inquiry)
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan induktif, diawali dengan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktik, pembelajaran melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secara individual maupun secara bersama-sama dengan temannya. Penemuan juga merupakan aktivitas untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis siswa.

(3) Bertanya (Questioning)
Pertanyaan merupakan komponen penting dalam pembelajaran kontekstual. Pertanyaan merupakan alat pembelajaran bagi guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan juga digunakan oleh siswa selama melaksanakan kegiatan yang berbasis penemuan.

(4) Masyarakat belajar (Learning Community)
Proses pembelajaran berlangsung dalam situasi sesama siswa saling berbicara dan menyimak, berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran siswa aktif lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri yang mendidik siswa untuk menjadi individu yang egoistis.

(5) Pemodelan (Modeling)
Aktivitas guru di kelas memiliki efek model bagi siswa. Jika guru mengajar dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, secara tidak langsung siswa pun akan meniru metode atau teknik yang dilakukan guru tersebut. Kondisi semacam ini akan banyak memberika manfaat bagi guru untuk mengarahkan siswa melakukan sesuatu yang diinginkannya melalui pendemonstrasian cara yang diinginkan tersebut.

(6) Refleksi (Reflection)
Salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional adalah cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam proses berpikir itu, siswa dapat merevisi dan merespon kejadian, aktivitas, dan pengalaman mereka.

(7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assestment)
Penilaian autentik ini bersifat mengukur produk pembelajaran yang bervariasi, yaitu pengetahuan dan keterampilan serta sikap siswa. Penilaian ini juga tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga prosesnya. Instruksi dan pertanyaan-pertanyaannya disusun yang kontekstual dan relevan.



B.   METODE EKSPERIMEN
a.    Pengertian Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk di latih melakukan suatu proses atau eksperimen, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari, mengalami suatu proses, mengamti suatu objek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hokum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya (Reostiyah, 2001).
Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan fisik dan mental, serta emosional siswa. Setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk melatih keterampilan proses yang di miliki agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang di peroleh secara langsung dapat tertanam dalam ingatanya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa dapat menimbulkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
Pembelajaran dengan metode eksperimen, melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya seorang ilmuwan Fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajaranya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang di peroleh selama pembelajaran.


b.      Tujuan dan Esensi Metode Eksperimen
Penggunaan metode eksperimen ini mempunyai tujuanyaitu agar siswa mampu dan menemukan sendiri berbagai jawabn atasa persoalan yang di hadapi dengan melakukan percobaan sendiri. Selain itu siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah, dengan eksperimen siswa menemukan bukti kebenaran dan teori sesuatu yang di pelajari.
Esensi dari penggunaan metode eksperimen yakni menyajikan bahan pelajaran melalui percobaan serta mengamati suatu proses. Pengamalan belajar yang akan di peroleh adalah menguji sesuatu, menguji hipotesis, menemukan hasil percobaan dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
Agar penggunaan metode eksperimen ini efesien dan efektif, maka perlu di perhatikan hal-hal berikut ini :
a.       Dalam eksperimen setiap siswa harus melakukan percobaan, maka jumlah alat dan bahan harus cukup bagi siswa.
b.      Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau hasilnya tidak membahayakan maka kondisi alat dan mutu bahan yang digunakan harus baik dan bersih.
c.       Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamti proses perubahan, maka perlu adanya waktu yang lama,
d.      Siswa dalam eksperimen ada pada tahap belajar dan berlatih, maka perlu di beri petunjuk yang jelas, sebab disamping memperoleh ilmu pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu di perhitungkan.





c.       Prosedur Pelaksanan eksperimen
Roestiyah (2001 ) mengatakan bahwa tahap pelaksaan metode eksperimen adalah sebagai berikut :
a)      Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, mereka harus memahi masalah yang akan di buktikan melalui eksperimen.
b)      Memberikan penjelasan kepada siswa tentang alat-alat dan bahan-bahan yang akan di gunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu di catat
c)      Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu member saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalanya eksperimen.
d)      Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mwndiskusikan di kelas, dan meng evaluasi dengan tes atau Tanya jawab.


d.      Tahap-Tahap Plaksanaan Eksperimen
Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut Palendeng (2003) meliputi tahap- tahap sebagai berikut :
a)      Percobaan awal, pembelajarn diawali dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan maslah yang berkaitan dengan materi fisika yang akan di pelajari.
b)      Pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat peristiwa tersebut.
c)      Hipotesis awal, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatan.
d)      Verifikasi, kegiatan untuk membuktikan kebenaran dan dugaan awal yang telahdi rumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa di harapkan merumuskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan, selanjutnya dapat di laporkan hasilnya.
e)      Apabila konsep setelah siswa merumuskan dan menemukan konsep, hasilnya diaplikasikan dlam kehidupanya. Kegiatan  ini merupakan pemantapan konsep yang telah di pelajari.
f)       Evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai suatu konsep. Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat di ketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, mampu aplikasi dalam kehidupanya. Dengan kata lain siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan.
Metode eksperimen memiliki kelebihan dan kekurngan, antara lain :
¨       Kelebihanya adalah :
Ø  Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaanya.
Ø  Dalam membina siswa untuk membuat trobosan-trobosan baru dengan penemuan dan hasil percobaan yang bermanfaat bagi kehidaupan manusia.
Ø  Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
¨       Kekuranganya adalah :
Ø  Metode ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi.
Ø  Metode ini memerlukan berbagai fasilitas dan perlatan yang banyak.
Ø  Metode ini menuntut ketelitian, keuletan, dan kesabaran.
Ø  Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemempuan dan pengendalian.

e.      Prinsip-prinsip metode eksperimen
Metode eksperimen sangat khas unutk membelajarkan prinsip atau generalisasi hubungan dua variable, yaitu variable bebas dan variable terikat. Sehubungan dengan pejelasan ini, metode eksperimen dapat dibagi menjadi eksperimen sederhana, dan eksperimen terkontrol. Dengan adanya pembagian ini, guru tidak perlu khawatir bahwa pelkasanaan eksperimen di kelas akan memerlukan banyak waktu.

1.       Eksperimen sederhana
Banyak masalah Ilmu Pengetahuan dan Sains teknologi yang dapat di pecahkan dengan metode eksperimen sederhana, sehingga tidak memerlukan tahap-tahap pengerjaan yang terpisah untuk menyelesaikanya. Langkah-langkah eksperimen sederhana itu adalah :
1)      Pengajuan maslah.
2)      Pelaksaan percobaan untuk pengamatan masalah.
3)      Pengambilan kesimpulan.
Dalam eksperimen ini perlu di lakukan pengotrolan terhadap variable-variable beabs yang di peljari, Karena pengaruhnya terhadap variable terikat dapat di abaikan atau memenang tidak ada variable lain yang berpengaruh kecuali variable yang sedang di pelajari.

2.       Eksperimen terkontrol
Hubungan antara satu variable bebas dan variable terikat dalam fenomena alam banyak yang tidak dia amati karena adanya variable lain yang berpengaruh terhadap variable terikat yang diamati.
Dlam pelaksanaan metode eksperimen terkontrol, langkah- langkah yang perlu di lakukan adalah :
1)      Pengajuan maslah.
2)      Pengajuan hipotesis.
3)      Pengotrolan variable (embuat perlakuan) variable bebas dan mengendalikan variable terkontrol.
4)      Pelaksanaan eksperimen
5)      Pengolahan data
6)      Pengambilan kesimpulan
Dalam metode eksperimen terkontrol kesimpulan yang dibuat bersifat tertutup artinya kesimpulan itu merupakan jawaban pasti (tidak perlu dipertanykan kebenaranya, atau tidak engundang munculnya masalah baru).
Sejalan dengan pendekatan keterampilan proes, dapat di katakana bahwa metode eksperimen adalah bagian dari keterampilan proses. Dalam menyakan, memeriksa, menyelidiki satu objek atau gejala alam untuk memecahkan masalah, menemukan konsep, ataau prinsip melalui proses antara lain : mengamati, melakukan, merumuskan hipotesis dan melakukan eksperimen.


C.         METODE TANYA JAWAB (DISKUSI)
Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu, diskusi
bukan debat, karena debat adalah perang mulut, orang beradu argumentasi, beradu paham, dan kemampuan persuasi untuk memenangkan pahamnya sendiri. Dalam diskusi, tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama. Dengan sumbangan tiap orang, kelompok diharapkan akan maju dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, langkah demi langkah sampai kepada paham terakhir sebagai hasil karya bersama. Dilihat dari pesertanya diskusi dibedakan atas:

1) ada yang terdiri atas beberapa orang saja (sekelompok orang), misalnya Buzzing, debat, reaksi lingkaran, diskusi kelas, dan lain-lain yang sejenisnya.
2) ada diskusi yang sifatnya melibatkan sejumlah massa (banyak orang) sehingga disebut metode interaksi massa, misalnya seminar, workshop, panel, forum, dan simposium.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode diskusi adalah:
1. Persiapan/perencanaan diskusi :
a. Tujuan diskusi harus jelas, agar pengarahan diskusi lebih terjamin.
b. Peserta diskusi harus memenuhi persyaratan tertentu,dan jumlahnya disesuaikan dengan sifat diskusi itu sendiri.
c. Penentuan dan perumusan masalah yang akan didiskusikan harus jelas.
d. Waktu dan tempat diskusi harus tepat, sehingga tidak akan berlarut-larut.




2. Pelaksanaan diskusi:
a. Membuat struktur kelompok (pimpinan, sekretaris, anggota)
b. Membagi-bagi tugas dalam diskusi
c. Merangsang seluruh peserta untuk berpartisipasi
d. Mencatat ide-ide atau saran-saran yang penting
e. Menghargai setiap pendapat yang diajukan peserta
f. Menciptakan situasi yang menyenangkan.

3. Tindak lanjut diskusi
a. Membuat hasil-hasil atau kesimpulan dari diskusi
b. Membacakan kambali hasilnya untuk diadakan koreksi seperlunya
c. Membuat penilaian terhadap pelaksanaan diskusi tersebut untuk dijadikan bahan pertimbangan dan perbaikan pada diskusi-diskusi yang akan datang.

Catatan yang perlu diperhatikan bahwa berhasil tidaknya diskusi banyak bergantung pada faktor-faktor berikut:
               Kepandaian dan kelincahan pimpinan diskusi
               Jelas tidaknya masalah dan tujuan yang dirumuskan
               Partisipasi dari setiap anggota





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar